Hany ar-Rifa'i Video

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Showing posts with label Kajian islam. Show all posts
Showing posts with label Kajian islam. Show all posts

Wednesday, November 11, 2015

Apakah Kita Shalat TAHIYATUL Masjid ketika Khutbah berlangsung?

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Menurut madzhab kami –madzhab Syafi’i- disunnahkan baginya untuk shalat dua raka’at yaitu shalat tahiyyatul masjid. Ia memperingan shalat tersebut dan makruh meninggalkannya. Inilah pendapat dari Al-Hasan Al-Bashri, Makhul, Al-Maqbari, Sufyan bin ‘Uyainah, Abu Tsaur, Al-Humaidi, Ahmad, Ishaq, Ibnul Mundzir, Daud dan ulama lainnya.” (Al-Majmu’, 4: 299)
Adakah dalil dalam masalah ini?
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ وَالنَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَخْطُبُ النَّاسَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ « أَصَلَّيْتَ يَا فُلاَنُ » . قَالَ لاَ . قَالَ « قُمْ فَارْكَعْ »
“Dari Jabir bin ‘Abdillah, ia berkata, ada seseorang yang datang dan saat itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamsedang berkhutbah pada hari Jum’at. Nabi bertanya padanya (di tengah-tengah khutbah), “Apakah engkau sudah shalat wahai fulan?” “Belum”, jawabnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas memerintahkan, “Berdirilah, shalatlah.” (HR. Bukhari no. 930)
Dalam riwayat lain disebutkan,
فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ
Lakukanlah shalat dua raka’at.” (HR. Bukhari no. 931)
Imam Bukhari membawakan judul Bab untuk riwayat terakhir,
باب مَنْ جَاءَ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ
Bab: Siapa yang datang dan imam sedang berkhutbah, lakukanlah shalat dua raka’at ringan.”
Dalam riwayat Muslim disebutkan riwayat berikut,
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ جَاءَ سُلَيْكٌ الْغَطَفَانِىُّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَرَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَخْطُبُ فَجَلَسَ فَقَالَ لَهُ « يَا سُلَيْكُ قُمْ فَارْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَتَجَوَّزْ فِيهِمَا – ثُمَّ قَالَ – إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَلْيَتَجَوَّزْ فِيهِمَا ».
Dari Jabir bin ‘Abdullah, ia berkata, Sulaik Al-Ghathafani datang pada hari Jum’at dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkhutbah, lantas Sulaik masuk masjid lalu langsung duduk.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di tengah-tengah khutbah berkata padanya, “Wahai Sulaik, berdirilah, lakukanlah shalat dua raka’at. Kerjakanlah sekedar yang wajib saja dalam dua raka’at tersebut. Kemudian ia berkata, “Jika salah seorang di antara kalian datang pada hari Jum’at dan imam sedang berkhutbah, maka lakukanlah shalat dua raka’at. Namun cukupkanlah dengan yang wajib saja (ringkaslah, pen.).” (HR. Muslim no. 875)
Faedah dari Imam Nawawi rahimahullah yang bisa digali dari hadits di atas, jika seseorang memasuki masjid pada hari Jumat dan imam sedang berkhutbah, disunnahkan untuk melaksanakan shalat dua rakaat tahiyyatul masjid, dan dimakruhkan langsung duduk sebelum shalat. Disunnahkan shalat tersebut dalam keadaan ringkas agar bisa mendengarkan khutbah setelah itu. (Syarh Shahih Muslim, 6: 146)
Semoga bermanfaat.

Referensi:

Al-Majmu’ Syarh Al-Muhaddzab li Asy-Syairazi. Cetakan kedua, tahun 1427 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar ‘Alam Al-Kutub.
Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim. Cetakan pertama, tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm.

Kecerdasan IMAM SYAFI'I

Saturday, November 7, 2015

Tiga Belas Lubang Masuknya Setan ke Dalam Diri Manusia

Tiga Belas Lubang Masuknya Setan ke Dalam Diri Manusia

                Tatkala setan di usir dari surgaNYA Allah SWT, dengan beraninya ia bersumpah di hadapan Allah SWT, bahwa sampai hari kiamat, ia akan menggunakan dan menghalalkan berbagi cara untuk menyesatkan sekalian anak cucu Adam. Walaupun ada yang di kecualikan oleh setan, yaitu mereka yang Ikhlas Taat kepada Allah SWT.
Iblis menjawab, “Demi kemulian-Mu, pasti aku akan menyesatkan mereka semua (QS. Shaad [38]: 82)
Kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih di antara mereka. (QS. Shaad [38]: 83)
Jadi, ada garansi tersendiri untuk hamba-NYA yang tetap memakai akal sehatnya dan mematuhi petunjuk-petunjuk-NYA, untuk itu tidak perlu kita khawatir dan bersedih hati. Sebab itulah kunci untuk menyumbat lubang-lubang yang nantinya akan di masuki setan.
Sebelum memaparkan 13 Lubang Masuknya Setan ke Dalam Diri Manusia, alangkah baiknya kita kenali dulu biodata dari Setan:
1.      Nama/Gelar     : Iblis/Syeithan
2.      Tanggal lahir   : Tahun 1-1-Perintah sujud kepada Adam
3.      Alamat                        : Hati orang-orang yang lengah
4.      Agama             : Kekufuran
5.      Pekerjaan         : Pengasuh semua manusia yang sesat dan di murkai Allah
6.      Jabatan                        : Pemimpin kekufuran dan syirik
7.      Hobi                : Menjerumuskan dan menyesatkan
8.      Cita-cita          : Semua masuk neraka
9.      Kekuasaan       : Nihil
10.  Kemampuan    : Lemah
11.  Kepribadian    : Angkuh
12.  Anak Cucu      : Yang durhaka kepada orang tua
13.  Istri                  : Semua yang terbuka auratnya
Dari biodata di atas, semoga kita bukan yang termasuk di dalamnya, Aamiin.  Ada tiga pertanyaan seputar permusuhan manusia dan setan:
♦ PERMUSUHAN SETAN KEPADA MANUSIA ITU APA?
Setan dalam percakapan arab adalah setiap yang membangkang dari jin, manusia, hewan dan segala sesuatu (Ibnu Jarir At-Thabari)Umar bin Khatab pernah suatu ketika naik unta yang Bengal, kemudian di pukulah ia, tambahlah bengal, lalu ia turuna dan berkata: “Kalian tidak menaikanku kecuali di atas setan, aku tidak turun darinya kecuali karena jiwaku menolak”.(lisanul arab/1/102)
♦ KAPAN MULAINYA?
Allah ciptakan malaikat dari cahaya, jin dari api. Awalnya mereka sama-sama taat kepada Allah, saat malaikat diperintah untuk sujud kepada Adam ada diantara jin itu yang menolak. Disebut iblis dalam riwayat nama aslinya : Azaziil, ia percaya Allah sebagai : Pencipta, Menghidupkan dan mematikan. Namun kepercayaannya itu tidak bermanfaat. Ilmu yang tidak diamalkan.
DI MANA MEDAN PERMUSUHAN SETAN TERHADAP MANUSIA ?
Setelah Iblis merasa tenang hidup sampai kiamat. Ia merencanakan makarnya kepada manusia. (Qs. Al Hijr[15]: 39-40)
Medannya adalah : fil ardh (bumi)
Senjatanya adalah : tazyiin (menghiasi) dan al ighwaa’ : menyesatkan (Jangka panjang) maksud dari jangka panjang, melalaui tazyiin setan berusaha mengelabuhi manusia dalam amal-amal atau perbuatannya seakan-akan diawalnya baik, namun lama-kelamaan setan menyesatkannya tanpa sadar. Na'udzu billahi min dzalik.
Tiga belas lubang yang di sebutkan oleh Imam Al-Ghazali berikut ini barulah sebagian kecil darinya. Misalnya pada masalah harta, di ceritakan dalam Tanbihul Ghafilin,bahwasanya setan suatu kali bersumpah, “Orang-orang berharta akan terus kukocok dengan tiga macam godaan, yaitu kuelokkan dalam penglihatannya sehingga merasa sangat berat untuk menunaikan kewajibannya, atau aku ringankan tangannya agar di keluarkannya hartanya tidak pada tempat yang di ridhoi Allah swt, atau aku tanamkan cinta ke dalam hatinya sehingga mati-matian ia mencari harta kendati jalan tak benar pun dilakukannya.” Masuknya setan ke dalam tubuh kita tentu tidaklah tampak secara nyata, namun baru terasa pengaruhnya kalau sudah di dalam. Sampai-sampai dalam shalat pun bakal terasa bahwa si setan sudah menyelinap ke dalam tubuh kita.
Jerat yang di tebar setan memang ada seribu satu macam. Menurut Ibnu Abbas, tak kurang dari 700 ragam perangkap atau tipu daya yang di pasang oleh musuh bebuyutan bani Adam itu untuk menjaring manusia. Tak peduli siang atau malam, mulai dari  Kiai sampai preman. Dan untuk semua ini, hanya akal sehat dan imanlah yang mampu mengimbangi, menangkal dan mengatasinya.
Dari sekian banyak ragam dan macam tersebut, Imam Al-Ghazali mencatat sebagian di antaranya:
1. Mental Budak, baik dalam arti di perbudak maupun memperbudak (diri sendiri atau orang lain).
2. Mudah Marah, maksudnya di sini adalah ketika mengekspresikan kekecewaanya dengan berlebihan (meluap), seperti tidak lagi mempunyai akal.
3. Hasad atau Dengki
4. Kekenyangan (over-eating), biarpun makan itu halal dan baik.
5. Serakah atau Rakus, dan Kikir
6. Terburu-buru dan meninggalkan ketetapan tentang semua urusan, karena keterburu-buruan (dalam arti harus di segerakan) hanya bisa di benarkan dalam lima hal, yakni:
● Menguburkan jenazah (lebih utama di tempat ia meninggal)
● Menikahkan anak perempuan (sebab kalau tidak dia akan menikahkan dirinya sendiri)
● Membayar hutang
● Menghidangkan makanan untuk orang yang sedang musafir
● Bertobat sebenar-benar tobat kalau telah melakukan perbuatan tercela, langsung bertobat, sebab Nabi saw, bersabda ”Yang terbaik di antara kamu bukanlah orang yang tak punya dosa (karena ini mustahil), melainkan mereka yang bersegera sungguh-sungguh bertobat sesudah berbuat dosa, dan tak mengulanginya lagi.”
7. Nafsu, Ibnu Abbas perah berkata, “Yang mula pertama di ciptakan Allah dari manusia adalah faraj (kemaluan). Lalu Ia bertitah: Ini adalah amanat yang aku titipkan padamu. Janganlah kamu memakainya kecuali dengan hak, kalau kau menjaganya, Aku pun akan menjagamu.”
8. Fanatik Mazhab (Paham) dan memandang rendah musuh.
9. Menghalang-halangi orang lain untuk berkecimpung dalam bidang ilmu dan kebajikan.
10. Berprasangka jelek kepada orang lain.
11. Bersibuk diri dengan urusan sepele, perselisihan atau permusuhan.
12. Dirham atau uang, atau bermacam-macam harta lainnya.
13. Perhiasan, Prabot, kain dan rumah
Tidak perlu sebenarnya seseorang itu belajar “ilmu” tertentu untuk melawan makhluk halus ataupun setan, namun cukup dengan Tauhid dan pertebal Iman kepada Allah swt, karena Allah sendiri yang memberi janji dan jaminan.
Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah”, kemudian dia meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), “Jangan kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati dan bergembiralah kamu dengan memperoleh surge yang telah di janjikan kepadamu.” (QS. Al-Fushilat[41]: 30)
Makin menguatnya iman dan tauhid maka akan semakin terasa pula bahwa di kanan dan kiri dan di sekeliling kita senantiasa ada yang menjaga kita. Berikut ini adalah lima Ajian yang merupakan alat ampuh untuk membuat setan terpental-pental jika terkumpul pada diri manusia, dapat pula menjadi benteng kokoh bagi gencarnya rayuan setan-setan sekalipun seseorang itu tidak mempunyai banyak ilmu, dan ibadahnya pun tak terlampau tekun. Kelima ajian berikut di rumuskan oleh Imam Al-Ghazali:
(1)   Beragama (secara konsisten); (2) Berharta (dan memanfaatkannya di jalur yang benar); (3) Mempunyai rasa malu; (4) Bagus perangai; (5) Dermawan (baik dalam tenaga, ide, kasih sayang, jasa, dan juga dalam harta)
Dalam masalah kedermawanan, dalam buku Di Balik Ketajaman Mata Hati karya Imam Al-Ghazali, di nyatakan bahwa sesungguhnya setan jauh lebih ngeri dan takut dengan seseorang yang dermawan (pemurah) biarpun ia fasik, dari pada seseorang yang rajin beribadah tapi ia pelit.
Semua rumusan Al-Ghazali di atas, tampak identik dan melengkapi, apa yang pernah di sabadakan Rasulullah saw, “Bahwasanya ada 4 sifat yang jika kalian miliki niscaya akan sempurna Islam kalian, mulai dari ubun-ubun hingga ujung kaki, Ia itu adalah Jujur, Pandai bersyukur, Malu, dan baik pekertinya.”

Pengertian dari “bersyukur”, menurut Dr. Ir, Imaduddin, Msc., adalah menggunakan nikmat Allah sesuai fungsinya, secara optimal, dan pada tempatnya. Semoga kita semua termasuk orang-orang selalu mendapat perlindungan dan pertolongan dari Allah swt.

Friday, November 6, 2015

Keutamaan Menghafal 10 ayat pertama Surah Al-Kahfi

Assalamualaikum wr.wb. sobat Blogger,,:) bagaimana kabar sobat semua di Jum'at sore ini? semoga kita semua masih dalam lindunganNYA dan juga masih mendapatkan atau merasakan Nikmat di hari Jumat.
Pada kesempatan kali ini saya mau berbagi mengenai Keutamaan Menghafal 10 Ayat Surah Al-Kahfi
walaupun sebenarnya saya juga belum hafal,,hehe tapi insyaAllah aka berusaha untuk menghafalnya, semoga Allah mempermudah kita untuk menghafal dan juga menjaga hafalan kita. Oke sob langsung saja monggo di simak baik-baik Artikelnya,,semoga bermanfaat.

Keutamaan Menghafal Sepuluh Ayat Surat Al Kahfi



Di antara keutamaan surat Al-Kahfi adalah jika sepuluh ayat pertama itu dihafal. Bahkan dalam riwayat lainnya disebutkan bahwa yang dihafal adalah sepuluh ayat terakhir. Apa keutamaannya?
Dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُورَةِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنَ الدَّجَّالِ
Siapa yang menghafal sepuluh ayat pertama dari surat Al-Kahfi, maka ia akan terlindungi dari Dajjal.” (HR. Muslim no. 809)
Dalam riwayat lain disebutkan, “Dari akhir surat Al-Kahfi.” (HR. Muslim no. 809)
Dalam hadits di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa siapa yang menghafal sepuluh ayat pertama atau terakhir dari surat Al-Kahfi, maka ia terlindungi dari Dajjal.
Imam Nawawi berkata, “Ada ulama yang mengatakan bahwa sebab mendapatkan keutamaan seperti itu adalah karena di awal surat Al-Kahfi terdapat hal-hal menakjubkan dan tanda kuasa Allah. Tentu saja siapa yang merenungkannya dengan benar, maka ia tidak akan terpengaruh dengan fitnah Dajjal. Begitu pula akhir surat Al-Kahfi, mulai dari ayat,
أَفَحَسِبَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ يَتَّخِذُوا عِبَادِي مِنْ دُونِي أَوْلِيَاءَ إِنَّا أَعْتَدْنَا جَهَنَّمَ لِلْكَافِرِينَ نُزُلًا
maka apakah orang-orang kafir menyangka bahwa mereka (dapat) mengambil hamba-hamba-Ku menjadi penolong selain Aku? Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka Jahannam tempat tinggal bagi orang-orang kafir.” (QS. Al-Kahfi: 102) (Syarh Shahih Muslim, 6: 84)
Isi surat Al-Kahfi adalah:
  1. Diturunkannya Al-Qur’an sebagai pembimbing pada jalan yang lurus.
  2. Menghibur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena orang kafir yang belum beriman.
  3. Keajaiban dalam kisah Ashabul Kahfi.
  4. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintahkan sabar menghadapi orang-orang fakir.
  5. Ancaman bagi orang kafir yang akan mendapatkan siksa dan bala’ (musibah).
  6. Janji pada orang beriman bahwa mereka akan mendapatkan balasan yang baik.
  7. Permisalan orang beriman dan orang kafir dalam menyikapi dunia.
  8. Permisalan dunia dengan hujan yang turun dari langit dan tanaman yang tumbuh.
  9. Dunia yang teranggap hanyalah ketaatan pada Allah saja.
  10. Penyebutan kejadian pada hari kiamat.
  11. Pembacaan kitab catatan amal.
  12. Manusia ditampakkan kebenaran.
  13. Iblis enggan sujud pada Adam.
  14. Keadaan orang kafir ketika masuk neraka.
  15. Orang yang membela kebatilan ketika berdebat dengan orang yang berpegang pada kebenaran.
  16. Cerita tentang umat sebelum kita yang hancur, supaya kita pun takut akan hal itu.
  17. Kisah Nabi Musa dan Khidr.
  18. Kisah Dzulqarnain.
  19. Bangunan yang menghalangi Ya’juj dan Ma’juj.
  20. Rahmat yang akan datang pada hari kiamat.
  21. Sia-sianya amalan orang kafir.
  22. Balasan bagi orang beriman dan yang berbuat baik.
  23. Ilmu Allah tak mungkin habis untuk dicatat.
  24. Perintah untuk ikhlas dalam beribadah dan perintah untuk mengikuti tuntunan Rasul (ittiba’ Rasul) lewat amalan shalih. (Kunuz Riyadh Ash-Shalihin, 13: 117)
Namun perlu dicatat keutamaan lainnya dari surat Al-Kahfi tentang keutamaannya dibaca pada hari Jumat. Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Imam Syafi’i dalam Al-Umm dan Al-Ashaab berkata disunnahkan membaca surat Al-Kahfi pada hari Jumat dan malam Jumatnya.” (Al-Majmu’, 4: 295).
Baca selengkapnya dalil tentang sunnah membaca surat Al-Kahfi di hari Jumat di sini.
Semoga bermanfaat dan bisa jadi amalan bermanfaat untuk persiapan menghadapi hari kiamat.

Referensi:

Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzzab li Asy-Syairazi. Cetakan kedua, tahun 1427 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar ‘Alam Al-Kutub.
Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim. Cetakan pertama, tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm.
Kunuz Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, tahun 1430 H. Rais Al-Fariq Al-‘Ilmi: Prof. Dr. Hamad bin Nashir bin ‘Abdurrahman Al-‘Ammar. Penerbit Dar Kunuz Isybiliya.
Selesai disusun di Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul, 23 Muharram 1437 H

Monday, September 14, 2015

AMALAN-AMALAN PENTING DI AWAL BULAN DZULHIJJAH

Rincian Amalan di Awal Dzulhijjah


Ini amalan-amalan yang bisa diamalkan oleh kaum muslimin yang tidak berhaji.

1 – 9 Dzulhijjah

  • Puasa sunnah awal Dzulhijjah.
  • Perbanyak takbir mutlak, tidak dibatasi waktu dan tempat. Boleh saat di pasar, di jalan, di kendaraan, di rumah, diperintahkan untuk terus bertakbir seperti layaknya takbiran hari raya.
  • Perbanyak amalan shalih seperti sedekah.
  • Larangan potong rambut dan kuku dari awal Dzulhijjah sampai hewan qurban disembelih.

9 Dzulhijjah

  • Puasa Arafah.
  • Perbanyak doa di hari Arafah karena sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah.

9 Dzulhijjah Ba’da Shubuh Hingga Waktu Ashar pada Hari Tasyriq yang Terakhir (13 Dzulhijjah)

  • Perbanyak takbir muqayyad, yaitu setelah shalat lima waktu maupun shalat sunnah. Baiknya tetap mendahululan dzikir setelah shalat kemudian perbanyak takbir.
* Wanita diperintahkan melirihkan suara, sedangkan laki-laki mengeraskan suara takbir.

10 Dzulhijjah

  • Shalat Idul Adha
  • Penyembelihan qurban
  • Tidak boleh puasa

Hari-Hari Tasyriq (11, 12, 13 Dzulhijjah)

  • Penyembelihan qurban
  • Tidak boleh puasa
  • Perbanyak doa sapu jagad: Rabbana aatinaa fid dunyaa hasanah wa fil aakhirati hasanah, wa qinaa ‘adzaaban naar.

1 Dzulhijjah jatuh pada tanggal 15 September 2015 berdasarkan keputusan pemerintah RI.

Wallahu waliyyut taufiq, hanya Allah yang beri taufik dan kemudahan untuk mengamalkan amalan shalih di atas.
Sekali SHARE ke yang lain, Anda dapat bagian pahala kebaikan.

Disusun 29 Dzulqa’dah 1436 H di Darush Sholihin, Panggang, GK
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Rumaysho.Com

Friday, September 11, 2015

Apakah itu ISLAM NUSANTARA?



Assalamualaikum wr.wb sobat blogger, bagaimana kabar anda semua, semoga masih dalam keadaan baik-saja,,,aaamin.

setelah beberapa saya tidak posting, di karenakan sibuk sendiri..haha

Dan kali ini saya akan membagikan artikel yang saya kutip dari blog tetangga, ASLIBUMIAYU.WORDPRESS.COM, artikel yang akan saya bagikan kali ini tentang ISLAM NUSANTARA,  Apakah kalian sudah tahu apa itu islam nusantara?? kalau belum tahu, mari kta baca sama-sama apa itu islam nusantara yang sedang populer di kalangan masyarakat, terutama masyarakat indonesia.:)



Islam Nusantara, Proyek Liberal


Akhir-akhir ini banyak yang membahas tentang islam nusantara, apakah itu islam nusantara?
Yusron****@gmail.com
Jawab:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
Istilah islam nusantara, menjadi isu yang mulai ramai dibicarakan. Sejalan dengan peran para budayawan dan orang-orang liberal di Indonesia. Dan nampaknya ini hendak dijadikan sebagai gerakan. Di UIN jakarta sendiri telah diselenggarakan festival budaya islam nusantara.Bahkan ada yang mengatakan, fenomena membaca al-Quran dengan langgam jawa,merupakan bagian dari proyek islam nusantara itu.

Saturday, September 5, 2015

Apa Hukum Menghadiahkan Al-fatiha kepada mayit (menurut 4 mazhab)

Assalamualaikum wr. sobat blogger:),
Alhamdulillah pada kesempatan kali ini kita masih bisa berjumpa kembali di rumahku yang sederhana ini. tentunya kita patut bersyukur kepada ALLAH swt. dan juga kita harus selalu bersholawat kepada nabi Muhamad saw sebagai Idola kita dunia dan akhirat.
Bagaimana kabar anda semua?? tentunya baik-baik saja kan, setelah cukup lama saya tidak posting di karenakan sibuk ngurus templete sendiri,,hehe, saya bingung sob, download templete di mbah google gak ada yang cocok, blog ini malah ancur gak karuan..haha:D
Dan sekarang alhamdulillah blogku ini sudah jadi walaupun saya ini edit sendiri, tanpa download yaa seperti ini lah hasilnya, sangat buruk...haha (mending lah,,:)) oke sob, cukup segitu dulu ocehannya
sekarang kita menuju topik yang akan kita bahas hari ini, nah, hari ini saya saya mau berbagi artikel penting yang sebenernya artikel ini harus di baca oleh setiap umat muslim terutama di indonesia.
karen kali ini saya mau berbagi artikel yang berjudul HUKUM Menghadiahkan al-Fatihah Menurut 4 Madzhab, 
Kita tentunya sudah tahu menghadiahkan al-fatiha kepada si mayit, karena hal tersebut sangat sering sekali di lakukan orang kita, orang indonesia.
Nah, sebenernya menghadiahkan al-fatiha ini dulu di contohkan oleh rasulullah saw gak sih??? atau apa sih hukumnya menghadiahkan al-Fatiha kepada sanak saudara yg sudah meninggal??? atau lagi bagaimana sih, pendapata 4 mazhab mengenai hal ini???
Mau tahu??? makanya baca artikel di bawah ini!!!
eh, sebelum baca kalian tahu kan 4mazhab itu siapa saja, jadi yang di maksud 4 mazhab itu adalah 
1. IMAM SYAFII
2. IMAM HAMBALI
3. IMAM MALIKI
4. IMAM HANAFY
Jadi ke4 mazhab ini tersebar di seluruh dunia termasuk indonesia, dan yang paling banyak di indonesia adalah Mazhab syafii. bukan berarti mazhab yang lain tidak ada ya sob. Nah, keepatnya memiliki pebdapat sendiri-sendiri mengenai masalah hukum menghadiahi AL-FATIHA kepada orang yang sudah meniunggal. berikut adalah pendapat mereka.

Thursday, August 13, 2015

Manusia Telah Di Takdirkan Masuk Surga Atau Neraka

Manusia Telah Di Takdirkan Masuk Surga Atau Neraka Sesungguhnya, seorang anak Adam, telah ditentukan oleh Allah, akan dimasukkan ke Surgaa tau Neraka jauh sebelum mereka dilahirkan, sebagaimana terdapat dalam hadits, “Allah menciptakan Adam, lalu ditepuk pundak kanannya kemudian keluarlah keturunan yang putih, mereka seperti susu. Kemudian ditepuk pundak yang kirinya lalu keluarlah keturunan yang hitam, mereka seperti arang.. Allah berfriman, ‘Mereka (yang seperti susu -pen) akan masuk ke dalam surga sedangkan Aku tidak peduli dan mereka (yang seperti arang-pen) akan masuk ke neraka sedangkan Aku tidak peduli.'”(Shahih; HR. Ahmad, ath-Thabrani dallamAl-Mu’jamul Kabirdan Ibnu Asakir, lihat Shahihul Jami’no: 3233) Dari Ali radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kami duduk bersama Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau sedang membawa tongkat sambil digores-goreskan ke tanah seraya bersabda, ‘Tidak ada seorang pun di antara kalian kecuali telah ditetapkan tempat duduknya di neraka atau pun surga.’(HR. Bukhari dan Muslim) Setelah mengetahui bahwa seseorang telah ditentukan akan dimasukkan ke surga atau neraka, tentu akan timbul pertanyaan dan kesimpulan berdasarkan akal logika manusia yang lemah, “Kalau begitu buat apa kita beramal. Nanti udah capek-capek ibadah ternyata masuk neraka”atau perkataan semisal itu. Pertanyaan semisal ini pun banyak ditanyakan oleh para sahabat di berbagai kesempatan. Salah satunya adalah pertanyaan seorang sahabat ketika mendengar pernyataan Rasulullahshalallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Tidak ada seorang pun di antara kalian kecuali telah ditetapkan tempat duduknya di neraka atau pun surga.’ Maka para sahabat bertanya, ‘”Wahai Rasulullah, kalau begitu apakah kami tinggalkan amal shalih dan bersandar dengan apa yang telah dituliskan untuk kami (ittikal)?”‘ (maksudnya pasrah saja tidak melakukan suatu usaha – pen) Kemudian Nabishallallahu ‘alaihi wa sallambersabda: اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ ، أَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ ، وَأَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الشَّقَاءِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ .ثُمَّ قَرَأَ ( فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى * وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى ). الآية Beramallah kalian! Sebab semuanya telah dimudahkan terhadap apa yang diciptakan untuknya. Adapun orang-orang yang bahagia, maka mereka akan mudah untuk mengamalkan amalan yang menyebabkan menjadi orang bahagia. Dan mereka yang celaka, akan mudah mengamalkan amalan yang menyebabkannya menjadi orang yang celaka” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah, “Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.”(HR. Bukhari, kitab at-Tafsirdan Muslim, kitab al-Qadar) Contoh lain adalah ketika sahabat Umar bin Khaththab bertanya kepada Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam, وسأله عمر هل نعمل في شئ نستأنفه ام في شئ قد فرغ منه قال بل في شئ قد فرغ منه قال ففيم العمل قال يا عمر لا يدرك ذلك إلا بالعمل قال إذا نجتهد يا رسول الله Umar radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam: Umar: Apakah amal yang kita lakukan itu kita sendiri yang memulai (belum ditakdirkan) ataukah amal yang sudah selesai ditentukan takdirnya? Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallammenjawab:“Bahkan amal itu telah selesai ditentukan taqdirnya.” Umar: Jika demikian, untuk apa amal? Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam:“Wahai Umar, orang tidak tahu hal itu, kecuali setelah beramal.” Umar: Jika demikian, kami akan bersungguh-sungguh, wahai Rasulullah! (Riwayat ini disebutkan oleh al-Bazzar dalam Musnadnya no. 168 dan Penulis Kanzul Ummal, no. 1583). Sementara apa yang dilakukan sebagian orang dengan alasan ketetapan tersebut, kemudian mereka pasrah bahkan kemudian bermudah-mudah, bahkan melegalkan perbuatan maksiat maka hal ini tidak dibenarkan. Mereka yang melakukan ini beranggapan, bahwa mereka berbuat maksiat tersebut karena sudah ditetapkan, karena itu mereka tidak berdosa. Sungguh pendapat ini sangat jauh dari kebenaran. Untuk menjawab kerancuan ini, bahwa seseorang ketika melakukan sesuatu, dia dihadapkan pada pilihan; melakukannya ataukah membatalkannya. Sementara saat menghadapi pilihan tersebut, ia tidak tahu apakah ia ditakdirkan melakukan kemaksiatan atau kah ketaatan. Kemudian, ketika ia memilih melakukan kemaksiatan, itu merupakan pilihannya namun keduanya terjadi berdasarkan takdir dari Allah. Lain halnya dengan orang yang dipaksa melakukan pelanggaran, ia tidak dihukum disebabkan melakukan pelanggaran tersebut, karena ia dipaksa melakukannya, bukan berdasarkan pilihannya sendiri. Jawaban lain bagi orang yang menjadikan takdir Allah sebagai pembenaran maksiat yang dilakukannya adalah sebagaimana yang dicontohkan oleh syaikh Utsaimin, bahwa ketika terjadi kasus semacam ini, kita katakan kepadanya, “Engkau menyatakan bahwa Allah telah mentakdirkanmu untuk melakukan maksiat sehingga engkau melakukannya, mengapa engkau tidak menyatakan sebaliknya, bahwa Allah mentakdirkanmu untuk melakukan ketaatan, sehingga engkau mentaati-Nya, sebab perkara takdir adalah perkara yang sangat rahasia, tidak ada yang mengetahuinya melainkan Allah ta’ala saja. Kita tidak tahu apa yang Allah tetapkan dan takdirkan itu melainkan setelah kejadiannya. Mengapa tidak engkau hentikan saja kemaksiatan itu, lalu engkau melakukan yang sebaliknya (ketaatan) dan setelah itu engkau katakan bawah hal ini aku lakukan dengan sebab takdir Allah.”(Syarah Hadits Arba’in) Ini sebagaimana seseorang yang lapar, tentu orang itu tidak akan diam saja agar kenyang. Tetapi ia akan berusaha untuk menghilangkan rasa laparnya itu dengan makan. Tidak mungkin ia menunggu saja hanya karena ia yakin sudah ditakdirkan akan kenyang. Demikianlah, karena seseorang tidak tahu apakah yang akan terjadi atau yang telah ditetapkan untuknya. Namun orang tersebut tentu tahu, agar kenyang atau hilang rasa laparnya ia harus makan. Demikian pula seorang mukmin, ia tahu bahwa untuk masuk surga maka ia harus berbuat ketaatan kepada Allah. Wallahu a’lam bi showab *** Di kutip dari: Artikel Muslimah.or.id Penulis: Ummu Ziyad Muroja’ah: Ust Ammi Nur Baits Maraji': *.Syarah Hadits Arba’in, Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, Pustaka Ibnu Katsir *.Fatawa Rasulullah, Anda Bertanya Rasulullah Menjawab, Ibnul Qayyim,Tahqiq dan Ta’liq Syaikh Qasim ar-Rifa’i, Pustaka As-Sunnah *.Shahih Ensiklopedi Hadits Qudsi, Syaikh Nashiruddin al-Albani, Duta Ilmu *.Tamasya ke Surga, Ibnu Qayyim, Pustaka Arafah